Diberdayakan oleh Blogger.
Satu Nusa, Satu Bangsa & Satu Bahasa " BAHASA INDONESIA "

Total Tayangan Halaman

Pengunjung yang baik Selalu Meninggalkan Klik di Like Box"

MATERI AJAR "CERAMAH"

Kamis, 05 Agustus 2021

MATERI AJAR

 

Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.6 Menganalisis Isi, Struktur dan Kebahasaan dalam Ceramah

3.6.1.          Menganalisis isi dan struktur teks ceramah.

3.6.2.          Menganalisis kaidah kebahasaan dalam teks ceramah

4.6  Mengkonstruksi ceramah tentang permasalahan aktual dengan memerhatikan aspek kebahasaan dan menggunakan struktur yang tepat

4.6.1.     Menentukan aspek-aspek yang disunting dalam teks ceramah

4.6.2.    Menyampaikan hasil suntingan teks ceramah teks ceramah dengan memperhatikan penguasaan materi. vokal, gesture, ekspresi, dan intonasi

 

Tujuan Pembelajaran

Melalui model pembelajaran Problem Based Learning, peserta didik dapat berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif (4C) baik dalam menganalisis isi, struktur, dan kebahasaan dalam ceramah dengan memerhatikan aspek kebahasaan dan menggunakan struktur yang tepat, serta memiliki sikap religius, nasionalis, integritas, dan mandiri. (PPK)

  

Nah, untuk pembelajaran kali ini, modul ini masih membahas tentang teks ceramah, yaitu dari segi isi, struktur, dan kaidah kebahasaannya. Kalian akan mengetahui seperti apa struktur teks ceramah itu, dan kalian pun akan diajak untuk mengetahui kaidah kebahasaan apa saja yang ada dalam teks ceramah. Mari kita pelajari modul ini untuk menambah wawasan kalian dalam mengenali isi, struktur dan kebahasaan teks ceramah.



Sebagaimana kalian tahu bahwa ceramah merupakan kegiatan yang dilakukan antara pembicara dan khalayak umum sebagai pendengar. Tujuannya untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan. Pembicara yang membawakan ceramah umumnya adalah orang yang dianggap menguasai bidangnya dengan baik. Ceramah dapat dilakukan secara langsung maupun menggunakan sarana komunikasi, seperti televisi, radio, dan internet. Ada beberapa hal yang perlu kalian ketahui terkait teks ceramah, terutama dalam hal ini adalah masalah isi dan struktur dalam teks ceramah. Mari kita pelajari uraian materi berikut ini

 

1. Isi Teks Ceramah

Isi Teks Ceramah Jika kalian memerhatikan isi teks ceramah biasanya berkenaan dengan informasi tentang beragam kehidupan baik ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, maupun kesehatan. Isi tersebut dianggap sesuatu yang penting bagi pendengarnya dan dapat memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi pendengarnya. Isinya selalu berkaitan dengan tema ceramah yang hendak disampaikan. Misalnya, ceramah bertema kebersihan, isinya berkaitan dengan masalah kebersihan pula.

Teks ceramah biasanya memiliki pesan yang bertujuan untuk memberikan nasihat, petunjuk, atau petuah secara lisan. Khalayak yang mendengarkan pun bisa siapa saja. Tetapi umumnya khalayak dari teks ceramah bersifat spesifik karena diumumkan di komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.

 Perhatikan kutipan berikut!

Kita telah menempel slogan-slogan tentang kebersihan di lingkungan sekolah kita. Misalnya: jagalah kebersihan, kebersihan adalah sebagian dari iman, bersih itu indah, bersih pangkal sehat, dan lain-lain. Akan tetapi, apakah slogan slogan tersebut sudah menggugah kita untuk menerapkannya? Belum semua warga sekolah tergugah untuk mengamalkannya, di antara warga sekolah masih ada yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah sehingga masih terlihat sampah berserakan.

 

Isi cuplikan teks tersebut adalah telah ditempelnya slogan kebersihan dan masih adanya warga sekolah yang kurang peduli terhadap kebersihan sekolah.

 2. Struktur Teks Ceramah

Jika kalian pernah menyimak orang yang sedang berceramah, atau pernah melihat naskah ceramah, kalian dapat menganalisis dari apa yang disampaikan dari cermah tersebut. Ada beberapa hal yang dapat kalian temukan dari teks ceramah tersebut, yaitu bagian pembuka, isi dan penutup.


a.  Pendahuluan

     Berupa pengenaan isu, masalah, ataupun pandangan pembicara tentang topik yang akan dibahasnya. Bagian ini sama dengan isi dalam teks eksposisi, yang disebut dengan isu.

 b. Isi

     Berupa argumen pembicara barkaitan dengan pendahuluan atau tesis. Pada bagian ini dikemukakan pula sejumlah fakta yang memperkuat argumen-argumen pembicara.

c.  Penutup

     Berupa penegasan kembali atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.


Berikut contoh analisis struktur untuk teks ceramah

a. Pendahuluan

Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapan- ungkapan banyak kalangan dalam menyatakan pendapat dan perasaan-perasaannya, seperti ketika berdemonstrasi ataupun rapat- rapat umum. Kata-kata mereka kasar (sarkastis), menyerang, dan tentu saja hal itu sangat menggores hati yang menerimanya. Bagian itu mengenalkan permasalahan utama (tesis), yakni tentang menurunnya kesantunan berbahasa masyarakat.

b. Isi (Rangkaian Argumen)

 Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan pula dengan rendahnya penghayatan masyarakat terhadap budayanya sebab kesantunan berbahasa itu tidak hanya berkaitan dengan ketepatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan pula dengan adat pergaulan yang berlaku dalam masyarakatitu. Teks tersebut merupakan salah satu bagian dari argumen pembicara tentang menurunnya kesantunan berbahasa masyarakat.

 c. Penutup (Penegasan)

 Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak kecil. Anak perlu dibina dan dididik berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak mustahil rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak itu kemudian menjadi orang yang arogan, kasar, dan kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu saja, kondisi itu tidak diharapkan oleh orangtua dan masyarakat manapun. Bagian tersebut merupakan suatu simpulan, sebagai hasil penalaran dari penjelasan sebelumnya. Hal ini ditandai oleh kata-kata yang berupa saran-saran yang disertai pula sejumlahalasan

Sebagaimana jenis teks lainnya, ceramah pun memiliki karakteristik tersendiri yang cenderung berbeda dengan teks-teks lainnya.

Merujuk pada contoh-contoh di atas bahwa teks ceramah memiliki kaidah kebahasaan sebagai berikut

 1. Menggunakan kata ganti orang pertama (tunggal) dan kata ganti orang kedua jamak, sebagai sapaan. Kata ganti orang pertama, yakni saya, aku. Mungkin juga menggunakan kata kami apabila penceramahnya mengatasnamakan kelompok. Teks ceramah sering kali menggunakan kata sapaan yang ditujukan pada orang banyak, seperti hadirin, kalian, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara. Contoh: Hadirin yang berbahagia, kalangan terpelajar dengan julukan hebatnya sebagai “tulang punggung negara, harapan masa depan bangsa” seharusnya ....

 

2. Menggunakan kata-kata teknis ataupun peistilahan yang berkenaan dengan topik yang dibahas. Dengan topik tentang masalah kebahasaan yang menjadi fokus pembahasannya istilah-istilah yang muncul dalam teks tersebut adalah sarkastis, eufemistis, tata krama, kesantunanberbahasa, etika berbahasa. Contoh: Intensitas para siswa dalam memahami literatur-literatur sesungguhnya merupakan sarana efektif dalam mengakrabi ragam bahasa baku.


3. Menggunakan kata-kata yang menunjukkan hubungan argumentasi (sebabakibat). Misalnya, jika... maka, sebab, karena, dengan demikian, akibatnya, oleh karena itu. Selain itu, dapat pula digunakan kata-kata yang yang menyatakan hubungan temporal ataupun perbandingan/ pertentangan, seperti sebelum itu, kemudian, pada akhirnya,sebaliknya, berbeda halnya, namun.

 Contoh: Saya melihat ketidakberesan mereka berbahasa, antara lain, disebabkan oleh kekurangwibawaan bahasa Indonesia itu sendiri di mata mereka.


4. Menggunakan kata kerja mental Kata kerja mental seperti memprihatinkan, mengagumkan, menduga, dan lainlain.

   Contoh: Bapak-bapak dan Ibu-ibu, prasangka saya waktu itu bukannya tidak memahami akan perlunya ketertiban berbahasa di lingkungan sekolah.

5. Menggunakan kata kerja persuasif Kata-kata persuasif seperti hendaklah, sebaiknya, perlu, harus.

  Contoh: Dampak negatif lain dari adanya kemajuan teknologi adalah banyaknya terjadi kasus penipuan dengan menggunakan media sosial sebagai akibat dari teknologi yang semakin tinggi. Dan yang paling penting adalah bahwa kini korbannya adalah para ibu – ibu rumah tangga. Karena terlalu sering main ponsel genggam, mereka menjadi susah untuk membedakan mana hal yang nyata dan mana yang hanya berita gosip saja. Oleh karena itu, kita seharusnya bijak dalam menggunakan teknologi. Mari kita jaga generasi muda kita agar menjadi generasi yang bersahaja.



3. 8 MENAPSIRKAN PANDANGAN PENGARANG TERHADAP KEHIDUPAN DALAM NOVEL YANG DIBACA

Selasa, 09 Februari 2021


KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Pandangan Pengarang dalam Novel
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran satu ini diharapkan menangkap maksud 
pengarang terhadap kehidupan dalam novel dan menerangkan maksud pengarang 
terhadap kehidupan dalam novel
B. Uraian Materi
1. Menafsir Pandangan Pengarang dalam Novel
Menafsir pandangan pengarang dalam novel adalah menafsir apa saja yang 
terkandung dalam novel, dalam hal ini termasuk di dalamnya menafsir tentang 
pesan pengarang, kalimat konotasi, kaitan fakta dengan kehidupan yang ada dan 
menemukan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan oleh penulis.
Langkah-langkah menafsir pandangan pengarang dalam novel:
a. membaca novel dengan seksama;
b. menentukan nilai-nilai kehidupan;
c. menafsirkan pandangan pengarang terhadap nilai-nilai itu.
2. Nilai-Nilai Kehidupan dalam Novel
Interpretasi terhadap pandangan pengarang adalah memberi kesan kepada 
pandangan pengarang baik berupa apresiasi maupun berupa nilai-nilai 
kehidupan yang terdapat dalam novel..
Nilai-nilai dalam novel:
1. Nilai sosial adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang hubungan dengan 
manusia atau masyarakat.
2. Nilai agama adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang sesorang 
berdasarkan hubungannya dengan Tuhan.
3. Nilai moral adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang kepribadian atau 
sikap sesorang dalam menyikapi suatu masalah.
4. Nilai budaya adalah nilai yang dilihat dari sudut pandang kebiasaan, adat￾istiadat, keperyaan, oleh masayarakat setempat.
Contoh menafsirkan dan interpretasi pandangan pengarang dalam novel.
Kutipan novel :
“Jimbron adalah seorang yang membuat kami takjub dengan tiga macam 
keheranan. Pertama, kami heran karena kalau mengaji, ia selalu diantar seorang 
pendeta. Sebetulnya beliau adalah seorang pastor karena beliau seorang Katolik, 
tapi kami memanggilnya Pendeta Geovany. Rupanya setelah sebatang kara 
seperti Arai ia menjadi anak asuh sang pendeta. Namun, pendeta berdarah Itali 
itu tak sedikit pun bermaksud mengonversi keyakinan Jimbron. Beliau malah tak 
pernah telat jika mengantarkan Jimbron mengaji ke masjid” (SP, 61)
Nilai kehidupan:
1. Nilai religius/agama (dilihat dari Jimbron)
2. Nilai sosial (dilihat dari pendeta)
Pandangan pengarang:
Pengarang menghadirkan tokoh Jimbron dalam novel Sang Pemimpi 
mencerminkan tokoh yang taat beragama dengan mengaji setiap harinya, 
walaupun dia hidup di lingkungan agama yang berbeda, yaitu agama Katolik. 
Kemudian pengarang juga menghadirkan cerminan toleransi dan jiwa sosial 
melalui tokoh pendeta.
Interpretasi Pandangan pengarang:
Sangat setuju dengan pandangan pengarang, melalui tokoh 
Jimron pengarang memberikan gambaran kehidupan religius walaupun hidup 
berbeda agama dan pengarang juga memberikan gambaran cerminan toleransi 
dan jiwa sosial melalui tokoh pendeta.
C. Rangkuman
1. Langkah-langkah menafsir pandangan pengarang dalam novel:
a. membaca novel dengan seksama;
b. menentukan nilai-nilai kehidupan;
c. menafsirkan pandangan pengarang terhadap nilai-nilai itu.
2. Nilai-nilai yang terkandung dalam novel:
a. Nilai sosial 
b. Nilai agama 
c. Nilai moral 
d. Nilai budaya 

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
Hasil Interpretasi Terhadap Pandangan Pengarang dalam 
Kehidupan Novel
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran dua ini diharapkan menemukan 
pandangan pengarang dalam novel dan menyajikan hasil interpretasi terhadap 
pandangan pengarang dengan kalimat yang baik dan benar.
B. Uraian Materi
Sudut Pandang Pengarang dalam Novel
Pada kegiatan pembelajaran sebelumnya, kalian sudah Menangkap maksud 
pengarang terhadap kehidupan dalam novel dan menerangkan maksud pengarang 
terhadap kehidupan dalam novel. Pada kegiatan pembelajaran 2 ini, kalian akan 
Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang baik secara lisan 
maupun tulis.Berapa novelyangpernahkalianbaca? Bagaimana dengan isi novel
yang kalianbaca? Tentu berbeda-beda bukan? Selain tema yang diusung,
perbedaan yang adaa dalam caramenyajikan cerita dan sudut pandang
pengarang. Setiap pengarang memiliki pandangan masing-masing dalam 
menyikapi suatu hal yang biasanya tergambar pada karyanya. Kamu telah 
membaca beberapa penggalan novel Laskar pelangi karya Andrea Hirata, bukan? 
Apa yang dapat kalian temukan? Bagaimana pandangan pengarang dalam novel 
tersebut? Untuk mengetahui hal tersebut, kalian harus penggalan membaca novel 
tersebut. Setelah itu, barulah kalian dapat menemukan bagaimana pandangan 
pengarang dalam novel tersebut.
Pengertian Sudut pandang adalah arah pandang seorang penulis dalam 
menyampaikan sebuah cerita, sehingga cerita tersebut lebih hidup dan tersampaikan 
dengan baik pada pembaca atau pendengarnya. Dengan kata lain, sudut pandang 
merupakan cara penulis memandang/menempatkan dirinya dalam sebuah cerita.
Menurut Teori Sastra, sudut pandang sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu sudut 
pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang 
pertama dibagi lagi menjadi dua, yaitu: sudut pandang orang pertama-tokoh utama 
dan sudut pandang orang pertama-tokoh sampingan. Sementara sudut pandang orang 
ketiga juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu sudut pandang orang ketiga serba 
tahu/mahatahu, dan sudut pandang orang ketiga pengamat.
Sementara itu, secara umum terdapat berbagai macam teori tentang sudut 
pandang. Diantaranya ada sudut pandang campuran dan ada juga sudut pandang 
pihak kedua. Nah, Berikut kami paparkan macam-macam sudut pandang tersebut 
beserta dengan contoh penggunaannya.
1. Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang orang pertama biasanya menggunakan kata ganti “aku” atau 
“saya” atau juga “kami” (jamak). Pada saat menggunakan sudut pandang orang 
pertama, Anda seakan-akan menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang sedang 
dibuat. Si pembaca pun akan merasa melakoni setiap cerita yang dikisahkan.
a. Sudut pandang orang pertama (tokoh utama)
Sesuai dengan namanya–sudut pandang orang pertama (tokoh utama)–si 
penulis seolah-olah ‘masuk’ dalam cerita tersebut sebagai tokoh utama/tokoh 
sentral dalam cerita (first person central). Segala hal yang berkaitan dengan 
pikiran, perasaan, tingkah laku, atau kejadian yang tokoh “aku” lakukan akan 
digambarkan pada cerita tersebut.
Ia akan menjadi pusat kesadaran dan pusat dari cerita. Jika ada 
peristiwa/tokoh di luar diri “aku”, peristiwa/tokoh itu akan diceritakan sebatas 
keterkaitan dengan tokoh “aku”.
Contoh sudut pandang orang pertama tokoh utama:
Aku sedang mengamati lemari jam yang berdiri kaku di pojok ruangan. Ukiran 
jati bertuliskan huruf Jawa kuno menjadi saksi bisu kelahiranku. Ditempat ini, 
20 tahun lalu aku dilahirkan…….dst .
b. Sudut pandang orang pertama (tokoh sampingan)
Pada teknik ini, tokoh “aku” hadir tidak dalam peran utama, melainkan 
peran pendukung atau tokoh tambahan (first personal peripheral). Kehadiran 
tokoh “aku” dalam cerita berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang cerita 
kepada pembaca.
Sementara tokoh utama, dibiarkan untuk menceritakan dirinya sendiri 
lengkap dengan dinamika yang terjadi. Dengan kata lain, tokoh “aku” pada teknik 
ini hanya sebagai saksi dari rangkaian peristiwa yang dialami (dan dilakukan) oleh 
tokoh utama.
Contoh sudut pandang orang pertama tokoh sampingan:
Brak!!! Sekali lagi aku dibuat kaget dengan suara pintu dari samping kamarku.
Erika pergi terburu-buru sambil lari tunggang langgang. Sepertinya ia 
terlambat kuliah lagi. Erika adalah gadis yang manis, ia ramah dengan semua 
orang. Tidak heran jika banyak orang menyukainya.
2. Sudut Pandang orang ketiga
Pada teknik sudut pandang orang atau pihak ketiga. Kata rujukan yang 
digunakan ialah “dia” “ia” atau nama tokoh dan juga mereka (jamak). Kata ganti ini 
digunakan untuk menceritakan tokoh utama dalam sebuah cerita.
Selain kata ganti yang digunakan, ada satu hal lagi yang membedakan antara 
sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga, yaitu kebebasan 
peran di dalam cerita. Pada sudut pandang orang pertama, si penulis bisa 
menunjukkan sosok dirinya di dalam cerita, dan ini tidak berlaku pada sudut 
pandang orang ketiga.
Pada sudut pandang orang ketiga, si penulis berada ‘di luar’ isi cerita dan 
hanya mengisahkan tokoh “dia” di dalam cerita.
a. Sudut pandang orang ketiga (serba tahu)
Pada sudut pandang orang ketiga serba tahu, si penulis akan menceritakan 
apa saja terkait tokoh utama. Ia seakan tahu benar tentang watak, pikiran, 
perasaan, kejadian, bahkan latar belakang yang mendalangi sebuah kejadian.
Ia seperti seorang yang mahatahu tentang tokoh yang sedang ia ceritakan.Oh ya, 
selain menggunakan kata ganti “ia” atau “dia”, kata ganti yang biasa digunakan ialah nama dari si tokoh itu sendiri. Hal ini berlaku juga untuk sudut pandang 
orang ketiga (pengamat).
Contoh sudut pandang orang ketiga serba tahu:
Sudah 6 bulan ini Naomi terjun pada dunia tarik suara. Ayah dan ibunya 
tidak ada yang merestui jalur karier yang ia geluti. Ia sampai beradu argumen 
dengan sang ayah yang memang memiliki watak keras. Keduanya sempat 
bersitegang sebelum akhirnya dipisahkan oleh sang ibu dengan derai air mata.
b. Sudut pandang orang ketiga (pengamat)
Teknik ini hampir sama dengan teknik sudut pandang orang ketiga serba 
tahu, hanya saja, tidak semahatahu teknik itu.Pada sudut pandang orang ketiga 
penulis menceritakan sebatas pengetahuannya saja.
Pengetahuan ini diperoleh dari penangkapan pancaindra yang digunakan, 
baik dengan cara mengamati (melihat), mendengar, mengalami, atau merasakan 
suatu kejadian di dalam cerita. Pengamatan pun dapat diperoleh dari hasil olah 
pikir si penulis tentang tokoh “dia” yang sedang ia ceritakan.
Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Pengamat:
Entah apa yang terjadi dengannya seminggu belakangan ini. Pulang dari 
kantor langsung menunjukkan muka masam. Belum lagi puasa bicara yang 
sudah ia lakukan seminggu belakangan ini. Apa mungkin karena hubungan dia 
dan sang kekasih yang tidak direstui oleh keluarga?
Unsur Ekstrinsik dalam Novel
Dalam novel ini selain unsur intrinsik, novel juga kental dengan unsur
ekstrinsik. Yang terdapat dalam novel tidak lepas dari latar belakang kehidupan si
pengarang entah itu dari segi budaya, kepercayaan, lingkungan tempat tinggal dsbg.
Berikut ini adalah beberapa unsur ekstrinsik yang dibahas dalam novel
Laskar Pelangi :
a. Latar Belakang Tempat Tinggal
Lingkungan tempat tinggal pengarang mempengaruhi psikologis pengarang.
Apalagi novel laskar pelangi ini merupakan adaptasi dari cerita nyata yang di alami
oleh pengarang secara langsung.
Letak tempat tinggal pengarang yang jauh berada di kampung Gantung, Belitong
Timur, Sumatera Selatan ternyata memang dijadikan latar belakang tempat bagi
penulisan novel ini.
b. Latar Belakang Sosial dan Budaya
Dalam novel ini banyak sekali mengandung unsur-unsur sosial dan budaya
masyarakat yang bertempat di Belitong. Adanya perbedaan status antara
kelompok buruh tambang dan kelompok pengusaha yang dibatasi oleh tembok
tinggi merupakan latar belakan sosial dari novel ini.
Dimana interaksi antara kedua kelompok ini memang ada dan saling
ketergantungan. Kelompok buruh tambang membutuhkan uang untuk
melanjutkan kehidupannya, sedangkan kelompok pengusaha membutuhkan
tenaga para buruh tambang untuk menjalankan usahanya.
c. Latar Belakang Agama (Religi)
Latar belakang agama atau religi si pengarang sangat terlihat seperti
pantulan cermin dalam karya novel laskar pelangi ini. Nuansa keislamannya begitu
padat. Dalam beberapa penggalan cerita, pengarang sering menyelipkan pelajaran￾pelajaran seputar keislaman.
d. Latar Belakan Ekonomi
Sebagai masyarakat Belitong mengabdikan dirinya terhadap perusahaan￾perusahaan timah. Diceritakan dalam novel ini bahwa belitong adalah pulau yang
kaya akan sumber daya alamnya. Akan tetapi, tidak semua masyarakat belitong
dapat menikmati kekayaan alam itu.
PN monopoli hasil produksi, sementara masyarakat termarginalkan dalam
tanah mereka sendiri. Latar belakang ekonomi dalam novel ini diambil dari 
masyarakat belitong kebanyakan yang tingkat ekonominya dalam tingkatan
rendah. Padahal sumber daya alamnya tinggi.
e. Latar Belakang Pendidikan
Didalam novel ini terdapat banyak sekali nilai-nilai edukasi yang
disampaikan si pengarang. Pengarang tidak hanya menceritakan, namun juga
menyajikan berbagai ilmu pengetahuan yang diselipkan dalam ceritanya.
Begitu banyak cabang ilmu pengetahuan diselipkan yakni seperti sains
(kimia,fisika, astronomi, biologi). Pengarang sangat gemar memasukkan istilah-istilah asing ilmu pengetahuan yang tercurah dalam novel ini. Hal ini menandakan
C. Rangkuman
1. Sudut pandang dalam novel
a. Sudut pandang orang pertama
* Sudut pandang orang pertama(tokoh utama)
* Sudut pandang orang pertama(tokoh sampingan)
b. Sudut Pandang orang ketiga
* Sudut pandang orang ketiga (serba tahu)
* Sudut pandang orang ketiga (pengamat)
2. Unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel yaitu :
a. Latar Belakang Tempat Tinggal
b. Latar Belakang Sosial dan Budaya
c. Latar Belakang Agama (Religi)
d. Latar Belakan Ekonomi
e. Latar Belakang Pendidikan

3.7 NILAI-NILAI DALAM BUKU PENGAYAAN BAHASA INDONESIA KELAS XII

Selasa, 12 Januari 2021

PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas                : XII
Judul Modul     : Nilai-Nilai dalam Buku Pengayaan 

B. Kompetensi Dasar
3.7 Menilai isi dua buku fiksi (kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi) dan satu buku pengayaan        (nonfiksi) yang dibaca
4.7 Menyusun laporan hasil diskusi buku tentang satu topik baik secara lisan maupun tulis

C. Deskripsi Singkat Materi
Selamat bertemu kembali. Pernahkah kalian membaca buku kumpulan cerita pendek dan buku-buku ilmu pengetahuan? Setelah kalian membacanya, bagaimana anggapan kalian mengenai buku tersebut? Nah, dalam pembelajaran kali ini, kalian akan memberikan penilaian terhadap buku kumpulan cerpen dan buku pengayaan tersebut. Untuk dapat menilai buku tersebut, tentunya kalian harus memahami terlebih dahulu isi yang terkandung di dalamnya. Berikut ini diberikan contoh buku kumpulan cerpen dan buku pengayaan nonfiksi.Namun, sebelum kalian mencermati lebih lanjut hendaknya kalian tetap menjaga protokol kesehatan agar kalian terhindar dari wabah Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia. Hanya dengan kondisi sehat kalian akan dapat mempelajari modul ini dengan baik pula. Sudah siapkah kalian? 
Berikut beberapa contoh judul buku yang dapat kalian baca sebagai pengayaan. Tetap semangat!


KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
NILAI –NILAI MORAL DALAM KARYA FIKSI


A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul pada Kegiatan Pembelajaran 1 ini, kalian diharapkan dapat memetik nilai-nilai moral yang terkandung dalam buku kumpulan cerpen atau puisi dengan kritis, cermat, dan  bertanggung jawab. Dengan demikian, kalian diharapkan memiliki pemahaman tentang nilai-nilai yang bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

B. Uraian Materi
1. Hakikat Karya Fiksi 
Sebelum kita membahas nilai-nilai yang terkandung dalam buku fiksi dan nonfiksi, kita bahas terlebih dahulu hakikat buku fiksi dan nonfiksi. Buku fiksi adalah buku yang berupa prosa naratif yang berisfat imajinatif, tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan  hubungan￾hubungan antarmanusia. Karya fiksi biasanya berupa novel maupun cerpen. 
Karya fiksi juga menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri, dan dengan Tuhannya. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walaupun berupa hasil 
kerja imajinasi, khayalan, tidak benar jika fiksi dianggap sebagai hasil kerja lamunan belaka, melainkan penghayatan dan perenungan secara intens, perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab (Nurgiyantoro, 2015:5).
2. Jenis Karya Fiksi 
Jenis karya fiksi dikelompokkan menjadi beberapa macam. Karya fiksi yang mendasarkan pada fakta disebut sebagai fiksi historis jika yang menjadi dasar penulisan adalah fakta sejarah , misalnya Hitam dari Kurasan, Tentara Islam di Tanah Galia karya Dardji Zaidan. Novel historis terikat oleh fakta-fakta yang dikumpulkan melalui penelitian berbagai sumber. Namun, ia pun tetap memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Misalnya, novel Surapati dan Robert Anak Surapati karya Abdul Muis yang juga berangkat dari fakta sejarah. Jika yang menjadi dasar penulisan adalah fakta biografis disebut fiksi biografis. Karya –karya biografis orang terkenal seperti Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adam, Kuantar Kau ke Gerbang karya Ramadhan KH, Tahta untuk Rakyat karya Mochtar Lubis, dan Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. Selain itu juga biografi Gusti Nurul Streven Naar Geluk karya Ully Hermono, Khatijah ketika Rahasia Mim Tersingkap karya Sibel Eraslan, Barack Obama Dream From My father yang merupakan otobiografi. Jika yang menjadi dasar penulisan fiksi itu berupa fakta ilmu pengetahuan disebut fiksi sains. 
Misalnya, Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, karya Tere Liye, dan 1984 karya George Orwell. Ketiga jenis karya fiksi tersebut sering disebut fiksi nonfiksi (Nurgiyantoro, 2015:5)
Yang dapat digolongkan sebagai karya fiksi adalah novel (novel serius, novel popular, teenlit), cerpen, dan roman. Contoh novel serius misalnya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, semuanya karya Pramodya Ananta Toer. Dapat pula kalian baca novel Belenggu karya Armyn Pane, Atheis karya Achdiat Kartamiharja, Jalan Tak Ada Ujung dan Harimau￾Harimau karya Moctar Lubis, Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangun Wijaya, Ayat-Ayat Cinta, Bidadari Bermata Bening, Ketika Cinta Bertasbih, karya Habiburahman El Sirazi.Di samping itu, dapat pula kalian baca pula novel popular seperti Karmila, Badai Pasti Berlalu, karya Marga T, Cintaku di Kampus Biru, Kugapai 
Cintamu, Terminal Cinta Terakhir karya Ashadi Siregar, Cewek Komersil, Gita Cinta dari SMA, Musim Bercinta karya Eddy D Iskandar. Untuk jenis teenlit misalnya Dealova karya Dylan Nuranindya, othing But Love Semata Cinta dan Aphroditekarya Laire Siwi Mentari, dan lain-lain.

3. Nilai Moral dalam Karya Fiksi
Karya sastra selain sebagai media konumikasi, juga dipandang sebagai suatu sarana untuk mengajarkan sesuatu kepada pembaca. Telaah moral filosofis yang dikembangkan Plato, dalam Sudjiono (1990;177) dinyatakan bahwa fungsi sastra adalah mengajarkan moralitas, baik yang diorientasikan kepada ajaran religi maupun falsafah. Sehubungan dengan nilai-nilai dalam karya sastra, Shipley (dalam Tarigan, 1984;194) mengemukakan nilai-nilai dalam sastra meliputi lima macam yaitu:
a) Nilai hedonik, yaitu nilai yang memberi kesenangan secara langsung
b) Nilai artistik, yaitu nilai yang memanifestasikan keterampilan seseorang
c) Nilai kultural, yaitu nilai yang mengandung hubungan yang mendalam dengan masyarakat
d) Nilai etis, moral, religious, jika di dalamnya terkandung ajaran moral, etika, dan agama
e) Nilai praktis, jika dalam karya sastra itu terkandung hal-hal yang dapat dilaksanakan dalam                    kehidupan sehari-hari.

Pengertian moral dalam karya sastra tidak berbeda dengan pengertian moral secara umum, yaitu menyangkut nilai baik buruk yang diterima secara umum dan berpangkal pada nilai-nilai kemanusiaan. Moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil atau ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan 
dengan pembaca. 
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan itulah yang ingin disampaikan oleh pengarang. Menurut Burhan Nurgiyantoro (1995:323-324), jenis moral dalam karya sastra dikelompokkan menjadi empat aspek, yaitu:
a) Moral dalam aspek kehidupan antara manusia dan Tuhan 
b) Moral dalam aspek kehidupan antara manusia dengan manusia
c) Moral dalam aspek kehidupan antara manusia dengan nuraninya
d) Moral dalam aspek kehidupan antara manusia dengan alam

C. Rangkuman
1. Yang termasuk ke dalam karya fiksi adalah novel, cerpen, dan roman. Karya fiksi terbagi menjadi tiga macam, yakni fiksi yang bersumber pada sejarah disebut fiksi historis, yang bersumber dari kisah atau biografi disebut fiksi biografis, dan yang bersumber dari fakta-fakta ilmu pengetahuan disebut fiksi sains. 

2. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra fiksi maupun sastra fiksi nonfiksi meliputi nilai hedonik, yakni nilai yang memberi kesenangan secara langsung; nilai artistik yaitu nilai yang memanifestasikan keterampilan seseorang; nilai kultural adalah nilai yang mengandung hubungan dengan masyarakat; nilai etis-religius adalah nilai yang berhubungan dengan ajaran moral, etika, dan religious; serta nilai praktis yaitu nilai yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari

3. Nilai moral dalam karya fiksi dan fiksi nonfiksi meliputi nilai moral dalam aspek kehidupan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan nuraninya, dan manusia dengan alam.


KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
MENILAI DUA BUKU FIKSI DAN NONFIKSI 

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul pada Kegiatan Pembelajaran 2, kalian diharapkan dapat menilai isi dua buku fiksi berupa antologi cerpen dan satu buku pengayaan. Kalian diharapkan dapat mengambil isi maupun nilai yang berguna bagi kehidupan. Selanjutnya, kalian dapat menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, melalui membaca buku pengayaan dan melaporkannya pada guru, kalian diharapkan dapat mengembangkan sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif, dan kreatif.

B. Uraian Materi
Menilai buku kumpulan cerpenPada materi pengayaan kali ini kalian akan membaca buku fiksi berupa buku kumpulan cerpen. Buku kumpulan cerpen apa saja yang pernah kalian baca. Beberapa judul kumpulan cerpen atau antologi cerpen misalnya, Robohnya Surau Kami, karya A.A. Navis. Antologi ini terdiri atas sepuluh judul cerpen yaitu Robohnya Surau Kami, Anak Kebangggaan, Nasihat-Nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa. Selain itu kalian juga bisa membaca kumpulan cerpen yang lain misalnya Jodoh karya A.A Navis, Senyum Karyamin karya Amat Tohari, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus,dll. ? Kalian juga bisa membaca dan mengunduhnya di laman internet https://www.goodreads.com/list/show/39490.Kumpulan_Cerpen_Indonesia_Terbaik
Untuk menilai sebuah kumpulan cerita, terdapat sejumlah pertanyaan dapat kita jadikan panduan. Untuk itu, jawablah beberapa pertanyaan berikut!
a) Apa sajakah tema cerita yang terdapat dalam kumpulan cerpen tersebut?
b) Apakah tema tersebut benar sebagai kebenaran umum?
c) Peristiwa-peristiwa apa sajakah yang dipilih untuk melayani tema cerita?
d) Mengapa suatu cerita lebih menonjol daripada cerita yang lainnya?
e) Bagaimana peristiwa-peristiwa itu mengantarkan perjalanan hidup tokoh utamanya?
f) Di mana dan kapankah peristiwa-periatiwa tersebut terjadi?
g) Bagaimana cara pengarang dalam menampilkan karakter-karakter tokoh tokohnya?
h) Dari sudut pandang siapakah cerita-cerita tersebut diceritakan?
i) Bagaimana cara pengarang menyampaikan amanatnya?
j) Gaya bahasa apakah yang digunakan pengarang dalam cerita-cerita tersebut?
k) Apakah penggunaan gaya bahasa itu tepat, wajar, dan hidup?
l) Bagaimana kelebihan dan kelemahan buku kumpulan cerpen tersebut?

Karya cerpen seperti halnya novel juga mengandung unsur-unsur intrinsik seperti tema, latar cerita, sudut pandang atau gaya penceritaan, tokoh dan penokohan, alur cerita, amanat atau pesan, gaya bahasa, nilai-nilai moral, dan lain-lain. Selain itu, karya fiksi diciptakan juga dipengaruhi oleh unsur di luar karya sastra misalnya, zaman atau masa karya itu diciptakan, pandangan hidup pengarang, dan sebagainya

C. Rangkuman
1. Antologi atau kumpulan karya dapat berupa kumpulan cerpen maupun kumpulan puisi. Keduanya tergolong karya atau buku fiksi.

2. Buku antologi cerpen misalnya, Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, Jodohkarya A.A. Navis, Senyum Karyamin karya Amat Tohari, Dari Ave Maria Ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus, Cerita dari Blora karya Pramodya Ananta Toer, Perempuan di Titik Nol, karya Nawal El Saadawi, dan lain lain.

3. Untuk menilai kumpulan cerpen dapat diawali dengan menganalisis tema setiap cerita, tema yang paling menonjol, tokoh –tokoh yang ditampilkan dalam setiap cerita, latar yang dominan, pesan dari setiap cerita, sudut pandang, gaya bahasa, serta keunggulan dan kelemahan dari setiap cerita. 

( Penyusun : Partinem, M.Pd )

KELAS XII 3.5 TEKS EDITORIAL

Selasa, 06 Oktober 2020


1. Kompetensi Dasar Dan Indikator Pencapaian Kompetensi

 

Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.5 Mengidentifikasi informasi (pendapat, alternatif solusi dan simpulan terhadap suatu isu) dalam teks editorial sejarah.

3.5.1   Mengidentifikasi isi teks editorial

3.5.2   Mengidentifikasi pendapat dalam sebuah teks editorial

3.5.3   Mengidentifikasi ragam informasi dalam teks editorial

3.5.4    Menyimpulkan informasi dalam teks editorial

4.4          Menyeleksi ragam informasi sebagai bahan teks editorial baik secara lisan maupun tulis.

4.5.1   Menemukan pendapat, alternatif solusi, dan simpulan, informasiinformasi penting, dan ragam Informasi sebagai bahan teks editori

4.5.2 Mempresentasikan, menanggapi, dan merevisi Informasi berupa pendapat, alternatif solusi, dan simpulan, informasi-informasi penting, dan ragam Informasi sebagai bahan teks editorial.

 

2.    Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif (4C) baik dalam mengidentifikasi isi, pendapat, ragam informasi, menyimpulkan informasi dalam teks editorial, dan mempresentasikan, menanggapi, dan merevisi informasi berupa pendapat, alternatif solusi, dan simpulan, informasi-informasi penting, dan ragam informasi sebagai bahan teks editorial.serta memiliki sikap religius, nasionalis, integritas, dan mandiri. (PPK)

 

3.    Peta Konsep

 

 


 Assalamulaikum anak-anak! Bagaimana kabar kalian hari ini ? semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Bapak harap dimasa pandemi covid 19 ini kalian senantiasa menjaga 5 M yakni Mencuci tangan,memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas supaya kalian tidak terjangkit virus corona.


Coba perhatikan di lingkungan sekitar kamu, atau mungkin ayah kamu deh. Apakah masih suka membaca koran di pagi hari sambil menikmati secangkir kopi hangat dengan pisang goreng? Membaca koran di pagi hari rasanya sudah tidak begitu lazim dilakukan ya teman-teman.  Rata-rata sudah menggunakan koran digital (web portal berita) gitu deh. Tapi, bicara soal koran, tahukah kamu bahwa di dalam koran/portal berita itu, kadang ada bagian editorialnya lho


KELAS XII 3.4 TEKS CERITA NOVEL SEJARAH




 1. Kompetensi Dasar Dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.4 Menganalisis kebahasaan cerita atau novel sejarah

3.4.1    Menganalisi kebahasaan teks ceritatau novel sejarah

3.4.2    Menganalisi unsur cerita teks novel sejarah

3.4.3    menyusun kerangka karangan cerita novel sejarah

4.4          Menulis cerita sejarah

       pribadi dengan memerhatikan kebahasaan

4.4.1   Menyusun cerita sejarah pribadidengan memerhatikan kebahasaan

4.4.2   Mempresentasikan teks cerita sejarah pribadi yang ditulis

 

 2. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif (4C) baik dalam menentukan unsur-unsur cerita, menganalisis unsur kebahasaan teks cerita/novel sejarah dan menyusun cerita sejarah pribadidengan memerhatikan kebahasaan serta memiliki sikap religius, nasionalis, integritas, dan mandiri. (PPK)

  3. Deskripsi Pembelajaran

            Assalamulaikum anak-anak! Bagaimana kabar kalian hari ini ? semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Bapak harap dimasa pandemi covid 19 ini kalian senantiasa menjaga 5 M yakni Mencuci tangan,Memakai masker, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan dan Mengurangi mobilitas supaya kalian tidak terjangkit virus corona.

Anak-anak bapak yang yang berakhalak mulia pada materi ajar ini kalian diharap bisa belajar dengan penuh semangat dan penuh cinta dengan tanah air indonesia.

Belajar sejarah sering kali memang diremehkan oleh sebagian orang karena tidak dianggap penting, membosankan tapi tahukan bahwa sebenarnya belajar sejarah itu sangan menyenangkan, kata orang akademisi belakar sejarah itu adalah rekreasinya orang akademisi di masa lampau.

Nah pada pembelajaran kali ini, materi ajar ini kalian akan belajar tentang teks cerita/novel sejarah yaitu unsur-unsur cerita,struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita novel sejarah.

    Ayo mari kita pelajari dengan penuh semangat dan hati yang bahagia !


Cerita sejarah tergolong kedalam genre teks naratif seperti halnya novel pada umumnya. Didalamnya terdapat unsur penokohan, alur, atau rangkaian peristiwa serta latar. Hanya saja yang satu bersifat informatif (faktual) dan yang satunya lagi berupa fiksi. Cerita sejarah yang bersifat fiksi banyak dibumbui oleh cerita imajinatif penulis, namun ide dasar cerita tetap fokus pada cerita faktualnya. Cerita Sejarah yang bersifat faktual disebut teks sejarah, sedangkan cerita sejarah yang bersifat imajinatif disebut teks cerita sejarah atau novel sejarah. Teks Sejarah dapat pula dikategorikan sebagai rekon atau cerita ulang. Berdasarkan jenisnya, cerita ulang terdiri atas tiga jenis, yakni rekon pribadi (pengalaman pribadi), rekon faktual (cerita faktual/informasional) dan rekon imajinatif (cerita imajinatif).

Rekon pribadi adalah cerita yang memuat suatu kejadian danpenulisnya terlibat secara langsung dalam cerita tersebut. Rekon faktual adalah cerita yang memuat kejadian faktual seperti eksperimen ilmiah, laporan polisi, dan lain-lain. Sedangkan Rekon imajinatif adalah cerita yang memuat kisah faktual yang dikhayalkan dan diceritakan secara lebih rinci. Teks Cerita (novel) sejarah tergolong ke dalam rekon imajinatif. Teks sejarah merupakan teks yang didalamnya menjelaskan tentang peristiwa atau kejadian masa lampau yang bersifat faktual, disajikan secara kronologis dan memiliki nilai kesejarahan (Engkos Kosasih, 2019 : 21). Sedangkan teks cerita atau novel sejarah merupakan cerita atau novel yang didalamnya menjelaskan dan menceritakan tentang fakta kejadian masa lalu yang menjadi asal-muasal 



Novel sejarah membantu memperkenalkan dan mengakrabkan suatu masyarakat pada masa lalu bangsanya. Dengan demikian, pendidikan dalam novel dapat menanamkan akar pada bangsanya.

Seorang sastrawan yang sering kali menggunakan fakta-fakta sejarah sebagai latar untuk mengisahkan tokoh-tokoh fiksinya bermaksud untuk mengisahkan kembali seorang tokoh sejarah dalam berbagai dimensi jkehidupannya, seperti emosi pribadi tokoh, tragedi yang menimpanya, kehidupan keluarga dan masyarakat, serta pandangan politiknya. Misalnya, novel Roro Mendut versi Mangunwijaya dan versi Ajip Rosidi; Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Segala Bangsa, dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer; Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H. yang mengisahkan kehidupan Soekarno ketika menjalin rumah tangga dengan Inggit Garnasih; Novel Pangeran Diponegoro; Menggagas Ratu Adil karya Remy Silado. Contoh lain novel The da Vinci Code karya Dan Brown.

A.              Pengertian Teks Cerita Novel Sejarah

Cerita sejarah adalah cerita yang didalamnya menjelaskan dan menceritakan tentang fakta kejadian masa lalu yang menjadi asal muasal atau latar belakang terjadinya sesuatu yang memiliki nilai kesejarahan, bisa ersifat naratif atau deskriptif. Cerita sejarah termasuk dalam teks naratif jika disajikan dengan menggunakan urutan peristiwa dan urutan waktu. Namun, jika cerita sejarah disajikan secara simbolisasi verbal, maka cerita sejarah tergolong ke dalam teks deskriptif.

 

B.       Informasi dalam Teks Cerita Novel Sejarah

Informasi penting dalam novel sejarah lebih mengarah kepada fakta sejarah yang dijadikan latar penceritaan serta imajinasi penulis atas fakta tersebut. Fakta sejarah yang menjadi informasi dalam novel sejarah misalnya latar waktu dan latar tempat. Selain itu peristiwa sejarah dan tokoh-tokoh yang terlibat juga termasuk dalam informasi yang didasarkan pada fakta sejarah. Sementara imajinasi pengarang ini secara leluasa banyak mengungkap perasaan dan pikiran tokoh.

 

C.      Struktur Teks Cerita Novel Sejarah

Novel sejarah, seperti juga novel-novel lainnya, termasuk dalam genre teks cerita ulang. Novel sejarah juga mempunyai unsur struktur teks yang sama dengan struktur novel lainnya yaitu orientasi, pengungkapan peristiwa, rising action, komplikasi, evaluasi/resolusi, dan koda.

1.          Pengenalan situasi cerita (exposition, orientasi)

Dalam bagian ini, pengarang memperkenalkan setting cerita baik waktu, tempat, maupun peristiwa. Selain itu, orientasi juga dapat disajikan dengan mengenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh.

2.             Pengungkapan peristiwa

          Dalam bagian ini disajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.

3.             Menuju konflik (rising action)

         Terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, ataupun keterlibatan berbagai situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.

4.             Puncak konflik (turning point, komplikasi)

         Bagian ini disebut pula sebagai klimaks. Inilah bagian cerita yang paling besar dan mendebarkan. Pada bagian ini pula, ditentukannya perubahan nasib beberapa tokohnya. Misalnya, apakah dia kemudian berhasil menyelesaikan masalahnya atau gagal.

5.             Penyelesaian (evaluasi, resolusi)

          Sebagai akhir cerita, pada bagian ini berisi penjelasan ataupun penilaian tentang sikap ataupun nasib-nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Pada bagian ini pun sering pula dinyatakan wujud akhir dari kondisi ataupun nasib akhir yang dialami tokoh utama.

6.             Koda

          Bagian ini berupa komentar terhadap keseluruhan isi cerita, yang fungsinya sebagai penutup. Komentar yang dimaksud bisa disampaikan langsung oleh pengarang atau dengan mewakilkannya pada seorang tokoh. Hanya saja tidak setiap novel memiliki koda, bahkan novel-novel modern lebih banyak menyerahkan simpulan akhir ceritanya kepada pembaca. Mereka dibiarkan menebak-nebak sendiri penyelesaian ceritanya.

D.     Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

Bahasa novel sejarah sama seperti bahasa yang digunakan pada novel pada umumnya, yaitu konotatif dan emotif. Meskipun konotatif dan emotif, bahasa novel sejarah tetap mengacu kepada bahasa yang digunakan masyakarat (konvensional) agar tetap dipahami oleh pembacanya.

 Penggunaan bahasa konotatif dan emotif diwujudkan pengarang dengan merekayasa bahasa dengan menggunakan beragam gaya bahasa, pencitraan dan beragam pengucapan (style).

Beberapa kaidah kebahasaan yang berlaku pada novel sejarah dipaparkan sebagai berikut.

1.         Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau Contoh: Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan gedung bekas asrama telah menyelesaikan t ugasnya.

2.         Menggunakan banyak kata yan menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis, temporal)

       Contoh: Sejak saat itu, setelah itu, mula-mula, kemudian, setelah

3.         Menggunakan banyak kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan (kata kerja material)

Contoh: Berdiri, menangis, menatap, menggenggam

4.         Menggunakan banyak kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seoarng tokoh oleh pengarang

       Contoh: Mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut, mengungkapkan, menanyakan, menyatakan, dan menuturkan

5.         Menggunakan banyak kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental)

Contoh: merasakan, mengiginkan, mengharapkan, mendambakan, menganggap

6.         Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda petik ganda (“...”) dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung

       Contoh: “Mana surat itu?”

                     “Surat apa, Nyi Gede, lontar ataukah kertas?”

7.         Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana

       Contoh:

       Gajah Mada mempersiapkan diri sebelum berbicara dan menebar pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan dari satuan masing-masing.

       Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besar wibawa Gajah mada, bahkan beberapa prajurit harus mengakui wibawa yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih besar dari wibawa Jayanegara. Sri Jayanegara masih bisa diajak bercanda, tetapi tidak dengan Patih Gajah Mada, sang pemilik wajah yang amat beku itu


Contoh Teks Novel Sejarah

Gambar : Novel Mangir
(Sumber : https://www.google.com/url?)

    Di bawah bulan malam ini, tiada setitik pun awan di langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan cepat ia naik dari kaki langit, mengunjungi segala dan semua yang tersentuh cahayanya.Juga hutan,juga laut,juga hewan dan manusia.Langit jernih,bersih,dan terang.Diatas bumi Jawa lain lagi keadaannya gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi.
    Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itugelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran seperti serakan mutiara-semua-dikuningi oleh cahaya bulan. Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila.
Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan meruncing, timbul- tenggelam di antara ombak-ombak purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung membikinlunas menerjang serong gunung-gunung air itu-serong ke barat laut. Barisan dayung pada dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat dari pilinan kapas dan benang sutra, mengilat seperti emas, kuning dan menyilaukan.
Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendopo, dekat pada damarsewu menegur, "Dingin-dingin begini anakanda datang, Pasti ada sesuatu keluarbiasaan. Mendekat sini, anakanda. Dan Patragading berialan mendekat dengan lututnya sambil mengangkat sembah, merebahkan diri pada kaki SangPatih. "Ampuni patik, membangunkan Paduka pada malam buta begini Kabarduka, Paduka. Balatentara Demak di bawah Adipati Kudus memasuki jepara tanpa diduga-duga, menyalahi aturan perang.

"Allah Dewa Batara!" sahut Sang Patih. "Itu bukan aturan raja raja! Itu aturan brandal!"
"Balatentara Tuban tak sempat dikerahkan, Paduka "Bagaimana Bupati Jepara?
"Tewas enggan menyerah Paduka, Patragading mengangkat sembah."Sisa balatentara Tuban mundur ke timur kota. Jepara penuh dengan balatentara Demak. Lebih dari tiga ribu orang. "Pada suatu kali, kaki kuda Demak akan mengepulkan debu di seluruh bumi Jawa. Bila debunya jatuh kembali ke bumi, ingat- ingat para kawula, akan kalian lihat, takkan ada satu tapak kaki orang Peranggipun tampak. Juga tapak- tapaknya di Blambangan dan Pajajaran akan musnah lenyap tertutup oleh debu kuda kalian." Seluruh Tuban kembali dalam ketenangan dan kedamaian-kota dan pedalaman. Sang Patih Tuban mendiang telah digantikan oleh Kala Cuwil, pemimpin pasukan gajah. Nama barunya: Wirabumi. Panggilannya yang lengkap: Gusti Patih Tuban Kala Cuwil Sang Wirabumi. Dan sebagai patih ia masih tetap memimpin pasukan gajah, maka Kala Cuwil tak juga terhapus dalam sebutan. Pasar kota dan pasar bandar ramai kembali seperti sediakala. Lalu lintas laut, kecuali dengan Atas Angin, pulih kembali. Sang Adipati telah menjatuhkan titah: kapal-kapal Tuban mendapat perkenan untuk berlabuh dan berdagang di Malaka ataupunPasai.

Sumber: Buku Paket Bahasa Indonesia Wajib Kelas XII, Edisi Kurikulum 2013


    
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. VANb.indo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger